Minggu, 11 Oktober 2009

Babad Sumedang

Prabu Agung Resi Cakrabuana (900 M)
Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Ia punya tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.
Berdasarkan Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda (duwegan/degan). Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung, menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu Lembu Agung dan pera keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.

Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra, pertama Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang melanjutkan menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan Guling meninggal kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan Tuakan. Setelah itu kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun.
Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.

Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri

Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.
Dari pernikahan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri memiliki enam orang anak, yaitu :
1. Pangeran Angkawijaya (yang tekenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun)
2. Kiyai Rangga Haji, yang mengalahkan Aria Kuda Panjalu ti Narimbang, supaya memeluk agama Islam.
3. Kiyai Demang Watang di Walakung.
4. Santowaan Wirakusumah, yang keturunannya berada di Pagaden dan Pamanukan, Subang.
5. Santowaan Cikeruh.
6. Santowaan Awiluar.
Ratu Pucuk Umun dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean Gede di Kota Sumedang.

Prabu Geusan Ulun

Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Ia menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.
Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.
Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.
Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan Kesultanan Mataram dan beliau pergi ke Demak dengan tujuan untuk mendalami agama Islam dengan diiringi empat prajurit setianya (Kandaga Lante). Setelah dari pesantren di Demak, sebelum pulang ke Sumedang ia mampir ke Cirebon untuk bertemu dengan Panembahan Ratu penguasa Cirebon, dan disambut dengan gembira karena mereka berdua sama-sama keturunan Sunan Gunung Jati.
Dengan sikap dan perilakunya yang sangat baik serta wajahnya yang rupawan, Prabu Geusan Ulun disenangi oleh penduduk di Cirebon. Permaisuri Panembahan Ratu yang bernama Ratu Harisbaya jatuh cinta kepada Prabu Geusan Ulun. Ketika dalam perjalanan pulang ternyata tanpa sepengetahuannya, Ratu Harisbaya ikut dalam rombongan, dam karena Ratu Harisbaya mengancam akan bunuh diri akhirnya dibawa pulang ke Sumedang. Karena kejadian itu, Panembahan Ratu marah besar dan mengirim pasukan untuk merebut kembali Ratu Harisbaya sehingga terjadi perang antara Cirebon dan Sumedang.
Akhirnya Sultan Agung dari Mataram meminta kepada Panembahan Ratu untuk berdamai dan menceraikan Ratu Harisbaya yang aslinya dari Pajang-Demak dan dinikahkan oleh Sultan Agung dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat Sumedang menyerahkan wilayah sebelah barat Sungai Cilutung (sekarang Majalengka) untuk menjadi wilayah Cirebon. Karena peperangan itu pula ibukota dipindahkan ke Gunung Rengganis, yang sekarang disebut Dayeuh Luhur.
Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri: yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada; yang kedua Ratu Harisbaya dari Cirebon, dan yang ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut ia memiliki lima belas orang anak:
1. Pangeran Rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati Sumedang
2. Raden Aria Wiraraja, di Lemahbeureum, Darmawangi
3. Kiyai Kadu Rangga Gede
4. Kiyai Rangga Patra Kalasa, di Cundukkayu
5. Raden Aria Rangga Pati, di Haurkuning
6. Raden Ngabehi Watang
7. Nyi Mas Demang Cipaku
8. Raden Ngabehi Martayuda, di Ciawi
9. Rd. Rangga Wiratama, di Cibeureum
10. Rd. Rangga Nitinagara, di Pagaden dan Pamanukan
11. Nyi Mas Rangga Pamade
12. Nyi Mas Dipati Ukur, di Bandung
13. Rd. Suridiwangsa, putra Ratu Harisbaya dari Panemabahan Ratu
14. Pangeran Tumenggung Tegalkalong
15. Rd. Kiyai Demang Cipaku, di Dayeuh Luhur.
Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).
Pemerintahan di bawah Mataram
Dipati Rangga Gempol
Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang Larang dijadikannya wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai 'kerajaan' dirubahnya menjadi 'kabupatian wedana'. Hal ini dilakukannya sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai wilayah pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda, yang sedang mengalami konflik dengan Mataram. Sultan Agung kemudian memberikan perintah kepada Rangga Gempol beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan untuk sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede.

Dipati Rangga Gede

Ketika setengah kekuatan militer kadipaten Sumedang Larang diperintahkan pergi ke Madura atas titah Sultan Agung, datanglah dari pasukan Kerajaan Banten untuk menyerbu. Karena Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten, ia akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur.
Dipati Ukur
Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggung jawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.
Pembagian wilayah kerajaan
Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang. Sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis), oleh Mataram dibagi menjadi tiga bagian
• Kabupaten Sukapura, dipimpin oleh Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, gelar Tumenggung Wiradegdaha/R. Wirawangsa,
• Kabupaten Bandung, dipimpin oleh Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, gelar Tumenggung Wirangun-angun,
• Kabupaten Parakanmuncang, dipimpin oleh Ki Somahita Umbul Sindangkasih, gelar Tumenggung Tanubaya.
Kesemua wilayah tersebut berada dibawah pengawasan Rangga Gede (atau Rangga Gempol II), yang sekaligus ditunjuk Mataram sebagai Wadana Bupati (kepala para bupati) Priangan
Diposkan oleh babad leluhur sumedang di 11:42 PM 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:

Raja & Bupati Dari Masa ke Masa

Nama Raja-raja Kerajaan Sumedang Larang
a. Prabu Guru Aji Putih Tahun 900

b. Prabu Agung Resi Cakrabuana / Prabu Taji Malela Tahun 950

c. Prabu Gajah Agung Tahun 980

d. Sunan Guling Tahun 1000

e. Sunan Tuakan Tahun 1200

f. Nyi Mas Ratu Patuakan Tahun 1450

g. Ratu Pucuk Umun / Nyi Mas Ratu Dewi Inten Dewata Tahun 1530 -1578
h. Prabu Geusan Ulun / Pangeran Angkawijaya Tahun 1578 -1601

2 Nama Bupati Wedana Masa Pemerintahan Mataram II

a. R. Suriadiwangsa / Pangeran Rangga Gempol I Tahun 1601 -1625
b. Pangeran Rangga Gede Tahun 1625 -1633
c. Pangeran Rangga Gempol II Tahun 1633 -1656
d. Pangeran Panembahan / Pangeran Rangga Gempol III Tahun 1656 -1706

3 Nama Bupati Wedana Masa Pemerintahan VOC, Inggris,Belanda dan Jepang

a. Dalem Tumenggung Tanumaja Tahun 1706 -1709
b. Pangeran Karuhun Tahun 1709 -1744
c. Dalem Istri Rajaningrat Tahun 1744 -1759
d. Dalem Anom Tahun 1759 -1761
e. Dalem Adipati Surianagara Tahun 1761 -1765
f. Dalem Adipati Surialaga Tahun 1765 -1773
g. Dalem Adipati Tanubaja (Parakan Muncang) Tahun 1773 -1775
h. Dalem Adipati Patrakusumah (Parakan Muncang) Tahun 1775 -1789
i. Dalem Aria Sacapati Tahun 1789 -1791
j. Pangeran Kornel / Pangeran Kusumahdinata Tahun 1791 -1828
k. Dalem Adipati Kusumahyuda / Dalem Ageung Tahun 1828 -1833
l. Dalem Adipati Kusumahdinata / Dalem Alit Tahun 1833 -1834
m. Dalem Tumenggung Suriadilaga / Dalem Sindangraja Tahun 1834 -1836
n. Pangeran Suria Kusumah Adinata / Pangeran Soegih Tahun 1836 -1882
o. Pangeran Aria Suria Atmaja / Pangeran Mekkah Tahun 1882 -1919
p. Dalem Adipati Aria Kusumahdilaga / Dalem Bintang Tahun 1919 -1937
q. Dalem Tumenggung Aria Suria Kusumah Adinata Tahun 1937 -1946

4. Bupati Masa Peralihan Republik Indonesia

a. Raden Hasan Suria Sacakusumah Tahun 1946 - 1947
5. Bupati Masa Pemerintahan Belanda / Indonesia
a. Raden Tumenggung M. Singer Tahun 1947 - 1949
6. Bupati Masa Pemerintahan Negara Pasundan
a. Raden Hasan Suria Sacakusumah Tahun 1949 - 1950
7. Bupati Masa Pemerintahan Republik Indonesia
a. Raden Abdurachman Kartadipura Tahun 1950 - 1951
b. Sulaeman Suwita Kusumah Tahun 1951 - 1958
c. Antan Sastradipura Tahun 1958 - 1960
d. Muhammad Hafil Tahun 1960 - 1966
e. Adang Kartaman Tahun 1966 - 1970
f. Drs. Supyan Iskandar Tahun 1970 - 1972
h. Drs. Supyan Iskandar Tahun 1972 - 1977
g. Drs. Kustandi Abdurahman Tahun 1977 - 1983
h. Drs. Sutarja Tahun 1983 - 1988
i. Drs. Sutarja Tahun 1988 - 1993
j. Drs. H. Moch. Husein Jachja Saputra Tahun 1993 - 1998
k. Drs. H. Misbach Tahun 1998 - 2003
l. H. Don Murdono,SH. Msi Tahun 2003 - 2008
m. H. Don Murdono,SH. Msi Tahun 2008 - 2013

Tembong Agung Bukan kerajaan Islam Tapi Penganut Islam

AWALNYA, yang pertama mendirikan kerajaan di daerah Sumedang yaitu Resi Prabu Guru Ajii Putih, sekitar 1479 Masehi. Ia merupakan saudara dari Prabu Siliwangi, keturunan raja-raja Galuh. Dengan nama Kerajaan Tembong Agung yang berpusat pemerintahan di Leuwihideung,Darmaraja,Menagapa Tembong Agung dikatakan Bukan kerajaan islam tapi penganut islam?Juru kunci Bapak Iyat mengatakan dengan adanya Cacandraan Urang Cipaku Teu kudu mangkat Kahaji,Geus di wakilan ku kami.Lamun Sagigireun Anjeun loba keneh nu buligir"Artinya :Bahwa Orang cipaku tidak perlu menunai kan Haji (rukun islam ke5)Karena Sudah diwakili olehku(Prabu Guru Aji putih)Selama masih banyak di sekitarmu (orang)yang tak berbaju,dengan isi cacandraan tersebut bisa di prediksikan bahwa Tembong agung/Prabu guru aji putih penganut ketauhidaan Aqo'id(islam)Resi Prabu Aji Putih menikahi(Ratu Ratna Inten Dewi Nawang wulan)memiliki putra bernama Prabu Tajimalela yang kemudian meneruskan ayahnya bertahta di Kerajaan Tembong Agung, tahun 1479-1492. Kerajaan Tembong Agung ini lah, sebagai cikal bakal berdirinya kerajaan Sumedanglarang.

Ditinjau dari segi asal usul kata Sumedanglarang berarti 'Tanah luas bagus yang jarang bandingannya', rangkaian dari Su = bagus, Medang = luas dan Larang = jarang bandingannya. Sedangkan nama kerajaan Sumedanglarang, berawal dari nama Sumedang yang berarti 'aku lahir untuk memberi penerangan'. Insun Medal = aku lahir, Insun Medangan = aku memberi penerangan yang saat itu diucapkan Prabu Tajimalela saat terjadi keajaiban alam, ketika langit menjadi terang benderang oleh cahaya melengkung menyerupai selendang (malela). Dan dengan kejadian tersebut Prabu Tajimalela dikenal juga dengan sebutan Prabu Himbar Buana.
Asal nama Taji Malela yaitu dari kata Taji=Takjub/Ajaib/Sakti dan Malela=Selendang.
Karena Resi Prabu Cakra buana Memiliki Selendang Sakti maka dikenalah Prabu Tajimalela yang Termashur ke pelosok negeri.

Konon, menurut legenda, Prabu Tajimalela yang bergelar Batara Tuntang Buana atau Resi Cakrabuana, saat itu memiliki tiga orang putra, masing-masing Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Ulun(Catatan Sunan Ulun Bukan Prabu Geusan Ulun/Raden Angka wijaya Raja Sumedang Larang Terakhir ). Berdasarkan naskah "Layang Darmaraja", untuk menyerahkan tahta kerajaan kepada salah seorang putranya, Prabu Tajimalela mengadakan sebuah ujian untuk Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung, tapi ketiga putranya itu ternyata tidak berkehendak menjadi raja.Sedangkan Sunan ulun memilih menjadi Resi/Sunan/Ulama dan hijrah ke Talaga majalengka untuk menyebarkan ketauhidan dan di bantu oleh ibu nya/istri Prabu Tajimalela(Ratu Endang kasih/Ratu Rambut kasih) yang berasal dari keturunan Sanghyang Talaga Majalengka.

Meski Prabu Gajah Agung menyarankan Prabu Lembu Agung yang menjadi raja, Prabu Lembu Agung malah menyerahkan agar adiknya yang menjadi raja. Akhirnya, Prabu Tajimalela memerintahkan kedua putranya itu menuju Gunung Sangkan Jaya dan menyuruh keduanya menunggui "sebilah pedang" dan sebuah "kelapa muda". Saat menjalankan amanat itu, Prabu Gajah Agung yang tak kuasa menahan dahaga, mengupas kelapa muda itu dan langsung meminumnya. Tindakan itu, sempat diketahui oleh ayahnya, Prabu Tajimalela sehingga memutuskan Prabu Gajah Agung yang menjadi raja di Tembong Agung dan berganti nama menjadi Kerajaan sumedang larang , dengan syarat harus mencari ibukota sendiri.
Atas titah ayahnya, Prabu Gajah Agung (Atmadibrata), selanjutnya memindahkan lokasi ibukota dari Leuwihideung, Darmaraja ke Ciguling, Pasanggrahan, Sumedang Selatan. Karena itu, ia disebut juga Prabu Pagulingan. Ia dikenal memiliki keris yang sangat ampuh dengan nama Ki Dukun. Pusaka Keris ini, sampai sekarang masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun. Namun, Prabu Gajah Agung yang memerintah antara 1492-1502, akhirnya wafat dan dimakamkan di Cicanting Darmaraja. Dua putranya, terdiri Ratu Isteri Rajamantri yang dipersunting Prabu Siliwangi Ratu Dewata (cucu Prabu Siliwangi I) dan Sunan Guling (Mertalaya) yang meneruskan menjadi raja Sumedanglarang (1502-1515).
Sementara itu, Prabu Lembu Agung meneruskan menjadi raja di Tembong Agung. Namun, tidak berlangsung lama. Ia disebut Prabu Peteng Aji dan seperti halnya Putra ketiga Prabu Tajimalela, Sunan Ulun memilih menjadi seorang petapa/resi. Ia kemudian menurunkan keturunan yang tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.
digantikan oleh Sunan Guling, kemudian digantikan putranya, Sunan Tuakan (Tirta Kusuma) dan setelah wafat digantikan putrinya bernama Nyi Mas Ratu Patuakan yang menikah dengan Sunan Corenda, cucu Prabu Siliwangi Ratu Dewata,

Alamat makam keramat Kecamatan Smedang Selatan

1.Gunung Ciung Pasarean Gede
#Pangeran Santri/Kusumah Dinata 1
#Ratu pucuk umun
#Raden Djamu/Pangeran kornel
#Dalem Istri Raja Ningrat
#Kyai Patih Guntur Geni
#Pangeran Karuhun
#Mbah Komarudin/Mbah jangkung
#Dalem Talun
#Dalem Alit
#Dalem istri Siti Aminah(ibu nya P. mekah)
Lingk.Pasarean Gede 02/12 kel.Kota kulon
Juru kunci :
1.Nana Sujana 3.Ibu Unah
2.lili Solihin 4.Pa Usman

2.Keramat Gunung Cupu
#Brata Kusumah Binti sayang kadaka
(Ayah Mbah jaya Perkasa)
#Buyut Halimah
#Buyut Cupu
lingk.Sayang 01/06 kel.kota kulon
Juru kunci :
1.Beben 3.Nana
2.Abah Maman 4.Kundang

3.Pangeran Rangga gede
lingk.Panday 01/06 kel.Regol wetan
Juru kunci :
1.Jono surawijaya
2.Ridwan

4.Keramat Manangga
#Mbah Banda yuda
#Raden Aria Sacapati
#Ratu Ajeng Nimang Mantri
#Mbah Banda yuda
#Ratu Kencana Wulan
#Ratu Ningrum kusumah
#Ratu inten
#Nyi Dewi Asih
#Mbah Seca manggala(kuncen pertama)
Lingk.Manangga 01/06 kel.Regol wetan
Juru kunci : Ibu Siti Dewi Aisyah

5.keramat Gunung puyuh
#Pangeran Sugih/Raden Soma Nagara
#K.H mustofa 1
#Pahlawan nasional Cut nyak dien
#Rangga gempol
#Raden Suria Dilaga.
#Komplek leluhur Dan keturunanya.
Jl.cut nyakdien04/07 Gg.SukaHaji kel.Regol wetan
Juru kunci :
1.H.Dana miharja 3.Deni Sumadilaga
2.Ebod 4.Nana

6.Keramat Baginda
Syekh Baginda Ali
Dsn. Baginda 02/03 Ds.Baginda-Smd Selatan
Juru kunci : Yayat

7.Keramat Cipancar
#Sunan Pancer Buana #Buyut Tajur
#Raden Sutra Bandera #Mbah Dewa
#Prabu purbaSora #Buyut Kadalumping
Dsn.Cipancar 04/01 Ds.Cipancar Smd Selatan
Juru kunci :
1.M.H Suhardi
2.Toto

8.Keramat Nangtung
#Mbah Jagabaya
#miramaya
#Singa Kerta
Dsn.Nangtung - Ds.Ciherang-Sumedang selatan
Juru kunci :
1. A.Suharman
2.Mustofa

9.Keramat Jamban
Mbah Tubagus Suren
Dsn.Jamban Ds.giri mukti sumedang selatan
Juru kunci : Abun

10.Buyut tunjang nagara
Dsn.Cibenda Desa giri mukti-Sumedang selatan
Juru kunci : 1.Maman 2.Herman

11.Keramat Gunung Gadung
#Mbah Rangga Wulung
#Buyut Putih
Dsn.Gunung gadung 01/04 Desa Sukajaya
Juru kunci :
1.Iwan Hermawan
2.Uus

12.Cagar budaya Gunung Kunci
Dsn.Panjunan 02/04 kel.Kota kulon Sumedang selatan
Juru kunci : Ade

13.Buyut Tenjo Nagara
Dsn.Cirangkong kel. Kota kulon kec.sumedang selatan
Juru kunci : Ahmad muhamad

14. Eyang Tamela
Dsn.Cipameungpeuk kel.Cipameungpeuk
Juru kunci : Maman
Diposkan oleh babad leluhur sumedang di 4:40 AM 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:

Alamat makam keramat Kecamatan Ganeas

1.Keramat Dayeuh Luhur
Prabu Geusan ulun,Ratu Haris baya
Rangga gempol 1/Pangeran Bembem
Mbah Jaya Perkasa,Buyut Ronggeng
Dsn.Dayeuh luhur 03/02 Ds.Dayeuh luhur-Ganeas
Juru kunci:
1.Ust.Aceng Hermawan 5.E.Muklis
2.Dudu 6.Suharna
3.Nono 7.Darya
4.Toto 8.Suhandi

2.Mbah Nangganan/Mbah Kondang hapa
Dsn.Cileuweung 05/04 Ds.Sukaweuning-Ganeas
juru kunci : Yuyu Nurangga

3.Nyimas Ratu tjukang gedeng waru
Dsn.Cigobang 03/04 Ds.Cikondang-Ganeas
Juru kunci :Nunung nurmalia

4.Mbah Jaya Dipanata
Dsn.Sadarayna 01/03 Ds.bangbayang-Ganeas
Juru kunci : Ust.Ahmad

5.Mbah Haji putih
Dsn.Ganeas 03/05 Ds.Ganeas-Ganeas
Juru Kunci : Kibohim

6.Keramat gunung Susuru
Dsn.Sahang 03/06 Ds.Dayeuh luhur-Ganeas
Juru kunci : Asep Salim

7.Pangeran Sumenep
Dsn. Cibungur 01/02 Ds.SukaWeuning-Ganeas
Juru kunci : Isad

8.Mbah Terong Peot/Pancer Buana/Jagalawang
Dsn.Batugara 08/10 Ds.BatuGara-Ganeas
Juru kunci : Banduy

Alamat makam keramat Kecamatan Situraja

1.Keramat Situraja
Buyut Merah dan Buyut Situraja
Keramat Situ/Cileutik
Dsn.Situraja 03/02 Ds.Situraja-Situraja
Juru kunci :
1.Tayim
2.Dede

2.Dalem Wirakara
Dsn Cikadu 02/02 Ds.Cikadu-Situraja
Juru Kunci :
1.Djamuh
2.Juanda

3.Buyut Ande dan Buyut Bunut
Dsn.Bunut 01/02 Ds.Cijati-Situraja
Juru kunci : Aki Ajum

4.Lingga Taktak
Dsn.Campaka kaler 03/04 Ds.Sunda mekar-Situraja
Juru kunci : Yayat kusumah

5.Mbah Pamelang Luwuk
Dsn.Luwuk 02/04 Ds.Sunda mekar-Situraja
Juru kunci : Ajum

6.Embah Pangkon luwuk
Dsn.luwuk 02/04 Ds.Situraja-Situraja
Juru kunci : Aki Aja

7.Patilasan Nyimas dayang Sumbi Dan Sangkuriang
Dusun.Bangbayang 04/08 Ds.Bangbayang-Situraja
Juru kunci :
1.Saripudin
2.Poleng

8.Buyut Cimuncang
Dsn.Cimuncang 02/08 DsSituraja-Situraja
Juru kunci : Sumarta

9.Keramat Tarik Kolot
Dsn mekar mulya 02/03 Ds.Tarik kolot-Situraja
juru kunci : Mista`


Alamat makam keramat Kecamatan Cisitu

1. Keramat Gunung lingga
Prabu Tajimalela/Himbar buana/
Prabu Tungtang buana.
Dusun Sempur mayuna 01/01 Ds.Cimarga-Cisitu
Juru Kunci :
1. Opan Sopandi
2.Dayat
3.Uca.


2.Ratu Inten Nawang wulan
Dsn.Cipeuteuy 01/06 Ds.Cisitu-Cisitu
Juru Kunci : Emud Mahmudin

3.Buyut pananding.
Dsn.Sunda suka 01/01 Ds.Sunda Mekar-Cisitu
Juru Kunci : Ibu kasmah

4.Buyut Sadang
Dusun. Ranjeng 02/04 Ds.Ranjeng-Cisitu
Juru Kunci :
1.Wanda
2.Wahyu

5.Buyut Cilopang
Dusun Cilopang 04/06 Desa.Cilopang-Cisitu
Juru kunci :
1.Ade
2.Kusmayadi

6.Keramat Gede Cicau
Dusun.Cicau 03/05 Ds.Pajagan-Cisitu
Juru Kunci : Maman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar